Akal bukan segalanya

B

ila tuhan itu ada, perlihatkan sekarang juga dimana? Begitu tanya seorang pakar filsafat di salah satu PTN kepada para mahasiswanya, sepuluh tahun lalu. Sontak mahasiswa di ruang kelas tersebut gelisah. Ada yang marah, ada yang bertanya-tanya, ada yang acuh tidak acuh.

Dosen yang menulis beberapa buku mata kuliah dasar umum (MKDU) untuk filsafat dan logika ini memang dikenal atheis alias tidak percaya adanya pencipta alam semesta. Baginya, Tuhan tidak bisa dilihat nyata dengan kedua matanya, oleh karennya Tuhan tidak ada. Tidak rasional. Titik. Semua mahasiswa saat itu diam, bingung untuk menjawab, hingga salah seorang dari mereka bertanya balik kepada sang dosen.

“Apakah Bapak punya otak? Saya tidak melihatnya, begitu pula teman-teman saya disini. Berarti Bapak tidak mempunyai otak. Bila memang ada, perlihatkan sekarang didepan kami secara nyata,” tanya mahasiswa tersebut. Lalu apa jawaban dosen? Diam membisu, memilih mengalihkan pembicaraan ke materi kuliah di bab berikutnya.

Urusan agama merupakan bagian yang disebut Prof. Rasyidi, Mantan Menteri Agama RI pertama, sebagai the ultimate concern atau perhatian utama manusia. Termasuk pertanyaan mengenai adakah Tuhan ada atau tidak yang kadang menggelayut di benak Kawan Kampus saat mempelajari filsafat ilmu, bagian MKDU yang umumnya wajib diikuti bagi mahasiswa baru. Pertanyaan sama ditanyakan pula komunitas-komunitas yang mengaku ateis yang belakangan mulai berjamur di kalangan kampus.

Memecahkan misteri Tuhan menggunakan akal semata (spekulasi filosofis) sesungguhnya merupakan pertaruhan yang besar. Sebab, masalah seputar Tuhan terlalu besar untuk dicerna oleh akal manusia yang lemah.”Jangankan memikirkan Tuhan memikirkan hakikat dirinya saja manusia mengalami kepayahan,’ ujar Wendi Zarman yang berbicara pada diskusi “Islamic World View” mengenai ketuhanan di Kampus Unikom, Jln. Dipati Ukur Bandung, Rabu (3/8).

Kandidat doktor pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun ini memberikan contoh bakteri yang tidak bisa dilihat kasat mata. Meskipun manusia telah berhasil menciptakan berbagai alat bantu untuk membantu meningkatkan kemampuan indranya, kelemahan itu akan senantiasa ada. Bila akal menerima informasi yang salah, sangat mungkin kesimpulan yang dibuat oleh akal pun menjadi salah.

Andaikan pembuktian sesuai berdasar pada akal yang terbatas, apakah kita bisa mengatakan bahwa “The Black Death” peristiwa terbunuhnya 20 juta orang sepanjang enam tahun karena wabah pes—di Eropa pada abad ke-14 merupakan penyakit yang “kebetulan saja” menimpa 20 juta orang pada saat bersamaan? Bisa jadi, bila berdasar pada akal saja. Karena pada abad itu belum ada mikroskop untuk melihat Yersinia pestis, bakteri berukuran 1,5-2X0,5-0,7 mikron yang menjadi penyebab wabah tersebut. Pada tempat dan kurun waktu yang bersamaan, teriakkanlah bahwa bumi itu bundar, institusi keagamaan Eropa termasuk ilmuwan akan mendesak raja yang berkuasa untuk memenggal kepala Kawan Kampus. Ya, mayoritas manusia di Eropa saat itu menganggap bumi datar. Akal manusia—di benua yang belakangan dianggap sebagai Pusat Teknologi—saat itu belum mampu menciptakan pesawat ulang alik untuk melihat bentuk bumi secara utuh.

Pada paparannya, peneliti Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (Pimpin) ini mengungkapkan pancaindra sebagai pintu-pintu akal tidak dapat digunakan untuk memperoleh  informasi mengenai alam gaib. Akal membutuhkan informasi lain bagi manusia yang untuk lebih mengenal Tuhannya. Informasi ini dapat ditemukan pada wahyu. Dalam pandangan ateis dan sekuler, wahyu tidak dapat diterima sebagai sumber ilmu karena isinya tidak dapat dibuktikan secara saintifik karena berkenaan dengan hal-hal yang gaib. Bagi mereka kebenaran suatu informasi harus dapat dibuktikan, sebelum diakui sebagai sesuatu yang benar. Jika demikian, perlu dipertanyakan kepada kaum ini berapa banyak kebenaran informasi yang dapat mereka buktikan sendiri.

Mengapa mereka ketika naik pesawat terbang percaya bahwa mesin pesawat bekerja dengan baik? Tanyakan juga, mengapa mereka percaya saja bahwa pilot yang mengemudikan pesawat adalah benar-benar orang yang mahir. Tanyakan juga, apakah mereka membuktikan sendiri bahwa minuman yang mereka minum di restoran tidak mengandung racun.

Sesungguhnya sebagian besar keterangan yang sampai kepada kita, kita terima atas dasar kepercayaan begitu saja. Itu berarti kebenaran informasi bukan semata berdasar pada apakah kita dapat membuktikannya secara saintifik atau tidak, tetapi apakah sumber informasi itu bisa dipercaya atau tidak. ***

Heykal Sya’ban

Kampus_pr@yahoo.com

 

Pikiran Rakyat

Kamis, 11 Agustus 2011

11 Ramadhan 1432 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: